KENALI HAMA PENGGEREK BATANG JAGUNG, SERANGANNYA MAMPU MENURUNKAN HASIL 80 PERSEN

KENALI HAMA PENGGEREK BATANG JAGUNG, SERANGANNYA MAMPU MENURUNKAN HASIL 80 PERSENKENALI HAMA PENGGEREK BATANG JAGUNG, SERANGANNYA MAMPU MENURUNKAN HASIL 80 PERSEN

Kenali Hama Penggerek Batang Jagung, Serangannya Mampu Menurunkan Hasil 80 Persen
Sebaiknya anda mengenali lebih dahulu tentang hama, penyakit dan unsur haranya sebelum menerjunkan diri dalam budidaya jagung. Sebaik apapun benih jagung yang dimiliki tanpa memperhatikan permasalahan tersebut, niscaya tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Mengingat jagung di Indonesia merupakan sumber pangan, pakan maupun bahan industri, maka budidaya jagung mendapatkan prioritas utama dalam program pembangunan pertanian. Informasi ini dapat dijadikan pedoman anda dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam dunia budidaya jagung seperti hama, penyakit maupun haranya.

Di Indonesia, jagung ditanam pada agroekosistem yang beragam, mulai dari lingkungan berproduktivitas tinggi (lahan subur) sampai berproduktivitas rendah (lahan suboptimal dan marjinal). Karena itu perlu teknologi produksi spesifik lokasi, sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Jagung bisa ditanam di lahan marjinal meski perlu penambahan pupuk yang cukup dan pemenuhan unsur hara yang memadai. Bila penanaman jagung di lakukan di lahan sawah tentunya akan mendapatkan hasil yang maksimial.
Hama yang sering kali merusak tanaman jagung antara lain penggerek batang jagung, ulat grayak, penggerek tongkol jagung, lalat bibit, belalang, dan kutu daun. Hama penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis Guenee) misalnya, hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%. Ngengat (sejenis kupu-kupu) biasanya aktif pada malam hari dan menghasilkan beberapa generasi per tahun, umur ngengat dewasa 7-11 hari.

Sedangkan penyakit utama yang biasanya merusak tanaman jagung adalah bulai (Downy Medew). Rusaknya tanaman jagung karena penyakit ini disebabkan oleh jamur. Pada tingkat penularan penyakit bulai yang parah, dapat menurunkan produksi dan bahkan menggagalkan panen. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan perlakuan benih (seed treatment), yaitu mencampur benih dengan fungisida metalaksil secara merata dengan takaran 2 g untuk setiap kg benih.Disamping itu kekurangan unsur hara pada tanaman jagung dapat menghambat pertumbuhan jagung, tanaman menjadi kerdil dan pada tingkat kekurangan unsur hara yang parah dapat menyebabkan tanaman jagung mati.
Hama, penyakit maupun unsur hara tersebut merupakan salah satu faktor penentu terhadap keberhasilan jagung dapat tumbuh dengan baik dengan mempunyai hasil yang optimal.

Hama Pada Tanaman Jagung

a) Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)

Gejala: daun berubah warna menjadi kekuning-kuningan; di sekitar bekas gigitan atau bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan dan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman akan sangat membantu memutus siklus hidup lalat bibit, terutama setelah selesai panen jagung; (2) tanaman yang terserang lalat bibit harus segera dicabut dan dimusnahkan, agar hama tidak menyebar; (3) kebersihan di sekitar areal penanaman hendaklah dijaga dan selalu diperhatikan terutama terhadap tanaman inang yang sekaligus sebagai gulma; (4) pengendalian secara kimiawi insektisida yang dapat digunakan antara lain: Dursban 20 EC, Hostathion 40 EC, Larvin 74 WP, Marshal 25 ST, Miral 26 dan Promet 40 SD sedangkan dosis penggunaan dapat mengikuti aturan pakai.

b) Ulat pemotong

Gejala: tanaman jagung yang terserang biasanya terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah yang ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman jagung yang masih muda itu roboh di atas tanah. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis sp. (A. ipsilon); Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) bertanam secara serentak pada areal yang luas, bisa juga dilakukan pergiliran tanaman; (2) dengan mencari dan membunuh ulat-ulat tersebut yang biasanya terdapat di dalam tanah; (3) sebelum lahan ditanami jagung, disemprot terlebih dahulu dengan insektisida.

 

Sumber: https://finbarroreilly.com/jalan-dewi-sartika-menjadi-dewi-persik-bekasi-minta-klarifikasi-google/