Pusat-Pusat Informasi di Kota Kecamatan

Pusat-Pusat Informasi di Kota Kecamatan

            Informasi seperti ini dalam pengertiaan era informasi, bukan penerangan. Karena itu, pusat informasi bukanlah pusat penerangan. Informasi di sisni mempunyai arti leebih luas daripada pengertian sempit yang dapat dianggap satu tingkat perkembangan (1) data, (2) informasi (3) know how, (4) knowledge. Informasi di sini meliputi seluruh sofware, seperti pengetahuan, ilmu teknologi, masalah prasarana, keahlian manajemen, dan entrepreneurship, dengan menggunakan alat-alat komunikasi dan alat-alat elektronika mikro yang canggih (Prof. Sarbini, 2004:156).

            Pusat-pusat informasi yang tersebar di daerah-daerah adalah perpanjangan dan kelanjutandari pusat-pusat penelitian di segala bidang (ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemasaran), yang ada di pusat-pusat negeri. Pusat-pusat penelitian ini didukung oleh kekuatan-kekuatan tertinggi dari negeri di segala bidang. Komunikasi dan koordinasi adalah tugas pusat-pusat informasi tersebut, tanpa wewenang mencampuri secara langsung atau menguasai unit-unit ekonomi di daerah sekitarnya. Jadi, fungsi utamanya ialah mendukung dan membantu kelancaran serta perkembangan perekonomian daerah (Prof. Sarbini, 2004:156).

  1. Model Industrialisasi Desa

Dalam proses industrialisasi diperlukan (Prof. Sarbini, 2004:156-159):

            Pertama, masa peralihan dan persiapan yang diperkirakan memerlukan waktu 3-5 tahun. Persiapan-pesiapan ini meliputi pendidikan skill, pembangunan R&D mengenai teknologi madya dan teknologi tinggi, khususnya untuk adaptasi dan inovasi, bioteknologi, teknologi energi, material, research, dan srvei sosial dan budaya, mengenai dampak demokrasi dan industrialisasi, membangun pelembagaan-pelembagaan politik dan sosial serta ekonomi di desa ke arah pembangunan kreativitas rakyat seperti inisiatif, inovatif, kesadaran dan kepercayaan pada diri sendiri, otonomi desa dalam suasana kebebasan. Termasuk pemberantasan langsung kemelaratan yang sangat parah. Pilot project-nya ialah industrialisasi dengan penerapan teknologi madya dalam suasana kebebasan demokrasi di beberapa desa.

            Kedua, sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa untuk desa dengan penduduk kurang lebih 3000 orang atau 600 keluarga, diperlukan investasi sebesar 1 juta dolar AS. Kalau sesudah massa persiapan dapat dilancarkan pembangunan desa secarra besar-besaran, dengan membangun kurang lebih 5.000 desa setahun, maka diperlukan 5 miliar dolar AS investasi desa per tahun. Dengan tingkat investasi ini, dapat diharapkan dalam jangka 10-15 tahun seluruh desa di Indonesia sudah dapat diangkat tingkat kehidupannya ke tingkat yang lebih baik, yaitu kemiskinan dan kebodohan diberantas, desa menjadi indutrialised dan semi-industrialised.

            Ketiga, disamping pembangunan fisik, segera dilancarkan pembangunan lembaga-lembaga sosial politik dengan meninggalkan anggapan masa depan sebagai masa mengambang. Lembaga-lembaga ini, selain adanya pembangunan fisik, akan mewujudkan partisipasi masyarakat desa secara aktif dan nyata kepada penentuan arah, sifat dan cara pembangunan, di samping parrtisipasi penuh dalam menikmati hasil pembangunan, disamping partisipasi penuh dalam menikmati hasil pembangunan. Lembaga-lembaga tersebut adalah lembaga-lembaga dalam alam demokrasi, lepas dari birokrasi dan tidak sub ordinat kepada birokrasi. Peembangunan dilaksanakan dengan bantuan birokrasi, tetapi berada di luar birokrasi, oleh dan dengan masyarakat.

            Keempat, pertanian dimekanisasikan dengan mempergunakan mesin-mesin, silo, dan pabrik penggilingan serta memanfaatkan bioteknologi. Bioteknologi akan sangat penting untuk reboisasi, menanami tanah-tanah gundul dan mengembangkan hortikultura. Dalam jangka panjang, pertanian harus membagi Indonesia dalam Indonesia-padat dan Indonesia-luas. Di Indonesia-padat pertanian ditekankan pada produksi nilai tinggi, padat karya seperti hortikultura, unggas, dan sebagainya. Indonesia-luas berpusat pada produksi bahan makanan pokok berskala besar dengan mekanisasi penuh (beras, gula, dan lain-lain), perhutanan dan perkebunan. Pertanian di Indonesia-padat dijalankan secara real estate, sedangkan pertanian di Indonesia luas (yaitu di Sumatera Barat, Bengkulu, Lombok, Sulawesi Selatan dll) dijalankan secara kooperatif.

            Kelima, industri manufaktur mandapt prioritas dalaam rencana investasi. Desa dengan penduduk 3000 orang pada umumnya mempunyai proporsi tenaga kerja 35%, berarti 1000 orang. Susunan tenaga kerja yang aktif dalam berbagai sektor 20% dalam pertanian, 30% dalam manufaktur, dan sisanya 50% dalam berbagai macam sektor lainnya, seperti perdagangan, transportasi, kesehatan, pendidikan, rekreasi (kesenian-kesenian, tontonan), perbankan, birokrasi (termasuk tenaga ahli menengah) yang bertugas menyebarkan informasi tentang teknologi dan pemasaran. Susunan ini dapat dianggap sustainable, karena dapat terjamin oleh meratanya pembagian pendapatan dalam tingkat yang lebih tinggi. Misalnya di pertanian, dengan jumlah yang lebih sedikit dapat dicapai efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi dengan income yang lebih tinggi, karena dibagi antara jumlah petani yang lebih sedikit.  Income yang lebih tinggi ini akan menjamin effective demand untuk hasil produksi sektor-sektor lainnya. Disamping itu, besarnya tenaga kerja di sektor manufaktur yang memang mempunyai produktivitas yang lebih tinggi daripada di pertanian menyebabkan keseluruhan sektor menghasilkan income yang meningkat. Income yang tinggi ini (relatif) memungkinkan diciptakannya saving yang cukup besar untuk investasi lebih lanjut, yaittu sumber dinamika pembangunan yang berkelanjutan.

 

Sumber :

https://icbbumiputera.co.id/pengaturan-keamanan-twitter-bantu-kurangi-akun-kekerasan/