Pembangunan Ekonomi

 Pembangunan Ekonomi

            Pembangunan ekonomi baru akan berarti jika dapat membawa perrubahan struktur ekonomi bersama dengan pembangunan dalam bidang-bidang sosial, politik, dan kebudayaan. Ciri struktur ekonomi yang paling menonjol (dan paling meminta perhatian) ialah struktur dualistik, dimana seluruh struktur perekonomian trebagi dalam dua bagian yang sangat berlainan, hidup berdampinga, tetapi dalam hubungan-hubungan sangat timpang. Sifat paling menonjol dalam dualisme tersebut ialah di satu pihak ada golongan dan lapisan perekonomian yang sangat kuat dalam segala aspeknya dan di pihak lain ada lapisan yang sangat besar dan meliputi bagian terbesar dari seluruh rakyat (yang terdiri dari kesatuan-kesatuan ekonomi yang sangat kecil), yang sangat lemah dan tidak berkemampuan membangun dirinya. Ciri-ciri inilah yang seharusnya dijadikan patokan untuk menentukan fokus pembangunan ekonomi kita (Prof. Sarbini, 2004:132).

            Sehubungan dengan falsafah hidup masyarakat kita dan aspirasi-aspirasi yang hidup dikalangan rakyat, pembangunan ekonomi harus diarahkan kepemberantas kemiskinan, ketidakmerataan, ketidakadilan, dan pengangguran. Hal ini mengharuskan kita memfokuskan segala usaha pembangunan si lemah. Karena itu, orientasi pembangunan ekonomi kita, bahkan orientasi keseluruhan pembangunan kita, adalah pembangunan daerah pedesaan (Prof. Sarbini, 2004:130).

            Pembangunan desa juga harus secara total dan terintegrasi meliputi seluruh bidang kehidupan kemasyarakatan, yaitu ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Ini berarti harus diadakan investasi besar-besaran di daerah pedesaan (Prof. Sarbini, 2004:130).

            Berhubungan dengan masalah kemampuan dan daya absorbsi dari pedesaan, maka suatu periode dan langkah persiapan pra-investasi sangat diperlukan. Salah satu langkah yang paling penting sebagai tindakan pra-investasi ialah diadakanya pembangunan fisik dari orang-orang di desa itu sendiri. Keterbelakangan, kebodohan, kekurangan gizi dan kesehatan, harus dihadapi secara langsung dan segera (Prof. Sarbini, 2004:133).

            Investasi secara besar secara besar-besaran di daerah pedesaan harus pula dilihat sebagai langkah yang sangat prinsipil dalam rangka pemerataan. Pemeratan tidak seharusnya diartikan meratakan hasil-hasil produksi. Melainkan, pemerataan harus dimulai dari meratakan pengikutsertaan secara aktif pada keseluruhan proses produksi. Sehubungan dengan itu, pemerataan akan ada artinya jika yang diratakan ialah penyebaran dari segala assetPengertian asset harus diperluas tidak hanya dalam arti modal, baik bersifat keuangan/informasi serta seluruh sofware yang diperlukan dalam proses produksi (Prof. Sarbini, 2004:133).

            Kalau selama ini investasi di daerah pedesaan meliputi bagian yang sangat kecil, maka separo dari seluruh dana pembangunan pemerintah ke arah pedesaan akan diperlukan jika hasil-hasil yang berarti ingin dicapai (Prof. Sarbini, 2004:134).

            Kelemahan yang ada di daerah tersebut sedemikian menyeluruh sifatnya, sehingga pembangunan secara sektoral tidak akan mencukupi. Karena itu sekali lagi, pembangunan harus bersifat total dan integral. Sebagai permulaan dapatlah dibangun apa yang disebut kebutuhan-kebutuhan pokok, meliputi kebutuhan akan kesehatan, gizi, pelajaran, dan pemukiman. Selanjutnya, pembangunan harus diadakan di seluruh sektor, dimulai dari pembangunan sektor pertanian, industri, pengangkutan, sumber energi, peerbankan, dan perdagangan (Prof. Sarbini, 2004:134).

            Pembangunan di segala sektor ini dilakukan dengan memperkenalkan teknologi yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknologi tradisional yang ada di desa. Dengan masuknya teknologi modern di derah pedesaan, maka teknologi ini harus mendapat arti yang lebih luas, bukan hanya meliputi cara organisasi, manajemen informasi yang selengkap-lengkapnya tentang mutu dan bentuk barang produksi serta pemasarannya (Prof. Sarbini, 2004:135).

            Disisni memasukkan dan memperkenalkan teknologi madya harus diartikan meliputi segala aspek dan proses produksi.perlu kiranya diberi kejelasan tentang apa yang dimaksud dengan teknologi madya (Prof. Sarbini, 2004:135).

            Pertama, teknologi madya merupakan alat-alat dan cara produksi yang lebih modern daripada apa yang ada di desa sekarrang ini (teknologi tradisional atau kuno). Akan tetapi, teknologi ini masih di bawah teknologi maju dan mutakhir. Kemajuan dan tingkat teknologi madya harus berada dalam tingkat kemampuan orang desa pada umumnya, sesudah mendapat latihan serta kursus dalam waktu relatif singkat, antara 6-12 bulan.

ARTIKEL TERBARU