Alam Semesta Tersusun Rapih, Seimbang dan Sempurn

Alam Semesta Tersusun Rapih, Seimbang dan Sempurna

Miliaran bintang dan galaksi dialam semesta bergerak dalam keseimbangan sempurna pada jalur-jalur yang sudah diciptakan oleh mereka. Bintang, planet dan satelit tidak hanya berputar pada sumbu masing-masing, tetapi juga bergerak bersama sistem sebagai bagian intergal. Terkadang galasi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak, melewati jalur galaksi lain. Namun ajaibnya tidak terjadi tubrukan yang merusak keteraturan jagad raya. Kejaiban ini wajib kita renungkan. (perhatikan firman Allah dalam QS AL-Mulk [67]:: 3-4, Nuh [71]: 15, Al-Furqan [25]:2.

Penemuan ilmiah abad  ke-20 yang saling susul dibidang astrofisika biologi membuktikan bahwa kehidupan dan alam semesta bermula dari penciptaan. Teori Big Bang menunjukan bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Beragam penemuan telah mengungkapkan bahwa terdapat rancangan agung dan “penyelarasan” (fine tuning) dalam dunia materi dan dengan demikian pernyataan materialisme terbukti tidak berdasar. Dari kekuatan ledakan Big Bang hingga sifat fisika atom, dari tingkat kekuatan empat jenis gaya dasar hingga proses kimiawi bintang, dari jenis cahaya yabg dipancarkan matahari hingga tingkat keenceran air dari jarak bumi kebulan hingga tingkat gas-gas dalam atmosfer, dari jarak bumi kematahari hingga sudut kemiringan bumi terhadap bidang orbit dan dari perceptan perputaran bumi terhadap sumbunya hingga peran laut dan penggunaan dibumi, setiap detail kecil itu disesuaikan demi kehidupan kita. Saat ini dunia ilmiah menggambarkan keadaan ini dengan konsep “prinsip antropik” (anttropic principle) dan “penyelarasan” (fine tuning). Konsep ini merangkum kenyataan bahwa alam semesta bukan lah sekumpulan zat yang tidak bertujuan, tidak terkendali, dan terjadi secara kebetulan, melainkan memiliki kegunaan bagi kehidupan manusia dan telah dirancang dengan ketelitian tertinggi.

Ayat-ayat tersebut menarik perhatian manusia pada ukuran dan keselarasan dalam ciptaan Allah. Kata taqdir, yang berarti “merancang”, “mengukur” dan “menciptakan dengan mengukur” digunakan dalam ayat Al-Qur’an, seperti Al-Furqan [25]: 2. Kata thibaq, yang berarti “dalam keselarasan” digunakan dalam Al-Mulk dengan kata tafawut, yang berarti “ketidaksesuaian”, “pelanggaran”, “ketidakaturan”, “berlawanan”, bahwa siapapun yang mencari ketidakserasian susunan alam semesta akan gagal menemukannya.

Istilah fine-tuning yang mulai digunakan akhir abad ke-20, mewakili kebenran yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut. Lebih dari seperempat abad terakhir, sejumlah besar ilmuwan, intelektual, dan penulis telah menunjukan bahwa alam semesta bukanlah kumpulan kebetukan belaka. Sebaliknya, jagad raya memeiliki rabcangan dan keteraturan yang luar biasa yang disesuaikan secara ideal untuk kehidupan manusia dalam setiap detailnya.

Sumber :

https://littlehorribles.com/