Identitas

Identitas

Identitas
Identitas
Beberapa tulisan terakhir (maaf kalau bukan yang mutakhir, maklum jarang ngenet) di milist ini banyak membicarakan identitas, mulai identitas bangsa sampai identitas NU. Beberapa penulis (dan tentu saja “pemforward tulisan”) menyuarakan keresahan akan hilangnya identitas.
 
Identitas—dalam konteks tulisan ini dan tulisan-tulisan senada sebelumnya—bukanlah sesuatu yang mak bedunduk ada. Ia lahir karena adanya relasi dengan pihak-pihak lain. Karena itu ia bersifat relasional, bahkan kadang-kadang oposisional. Mengomentari tips kepribadian a la Mien R Uno, Seno Gumira Ajidarma bahkan mengulas bahwa sifat relasional (atau oposisional) ini bisa tercermin dalam hal yang “remeh-temeh”: etiket (bukan etika) jamuan makan internasional (Kompas, 3 November 2007). Identitas “bangsa rendahan” seperti makan nasi harus disembunyikan rapat-rapat ketika menghadiri jamuan makan bersama bangsa barat “yang adiluhung”. Relasi yang dibangun oleh etiket kepribadian semacam ini mengharuskan yang pertama melenyapkan identitas di hadapan yang kedua, meskipun bisa saja yang pertama memunculkan identitasnya untuk melawan yang kedua.
 
Jadi membicarakan identitas bukanlah soal meratapi tradisi yang hilang, westernisasi, atau arabisasi, tetapi apa dan siapa yang hendak kita “lawan” dan “hadapi” dengan identitas itu. Ketika al-mukarromun para kyai pada jaman penjajahan dulu mengharamkan celana, pasti yang sedang dilakukan bukan semata pengharaman celana dan pewajiban sarung, tetapi sebuah perlawanan terhadap kolonialisme.
Kelompok-kelompok besar di dunia ini juga melakukan hal yang sama.
Israel membangun identitas diri sebagai bangsa tertindas pada satu sisi dan bangsa terpilih pada sisi lain: tertindas oleh Fir’aun dan Nazi dan dipilih oleh Tuhan untuk menghuni tanah yang dijanjikan. Oleh Ben Gourion dan kawan-kawan, identitas ini digunakan sebagai “kompor” bagi gerakan zionisme yang terbukti sangat ampuh sampai sekarang.

Syiah, PKS, HTI, PKI…(boleh ditambah yang lain) setali tiga uang dengan Israel. Semuanya membangun identitas: identitas perlawanan. Inilah yang membuat mereka tampak seksi. NU? Aswaja sajalah.

(Oh, ya. Sebelum lupa, perlu diulas satu contoh bagaimana dengan cantiknya PKS memanajemen identitas. Beberapa waktu lalu, seorang anggota dewan syariah PKS yang cukup berpengaruh menerbitkan buku yang mengulas sisi negatif poligami. Buku ini terkesan menyerang praktik poligami yang dilakukan oleh banyak pimpinan PKS, termasuk Tifatul Sembiring, presidennya. Tetapi, menurut saya, buku ini cukup berhasil mencegah kaburnya perempuan muslim kelas menengah di perkotaan yang banyak menjadi simpatisan PKS, tetapi alergi poligami. Rupanya PKS belajar dengan baik fenomena mbojo loro-nya A’a Gym).
NB: dengan “sub-judul” yang lain, persoalan identitas sedikit banyak juga disinggung pada temu alumni tanggal 18 September 2007.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/frontline-shooter-apk/