Akhir dari Sumbangan Pemikiran

Akhir dari Sumbangan Pemikiran

Akhir dari Sumbangan Pemikiran
Akhir dari Sumbangan Pemikiran

Entry points dalam menemukan kembali dasar-dasar pengembangan jati diri sebuah lingkungan seperti kota adalah melalui pembangunan budaya dan pendidikan yang berbasis pada perilaku dan prinsip-prinsip dasar kehidupan. Yang diperlukan sebuah kota ini untuk lepas dari persoalan-persoalan yang selama ini tidak kunjung selesai adalah berpegang teguh pada prinsip-prinsip kehidupan bagi penghuninya, diantaranya yaitu: (a) Etika (b) Kejujuran dan integritas (c) Bertanggungjawab (d) Menghormati aturan dan hukum masyarakat (e) Menghormati hak orang lain (f) Memiliki etos kerja (g) Berusaha keras untuk menabung dan investasi (h) Tepat waktu. Hal-hal tersebut diatas dipandang penting jika diterapkan dalam bentuk perwujudan pelaksanaan perencanaan dan manajemen perkotaan khususnya. Walaupun prinsip-prinsip ini sudah dilupakan bahkan mungkin hilang sama sekali. Yang muncul disini adalah cengkraman budaya kapitalis, konsumerisme dan hedonis. Masyarakat tidak lagi merasa memiliki kota, praktek-praktek pelanggaran sering dilakukan, misalnya membuang sampah sembarangan, pelangaran lalu lintas dsbnya. Belum lagi tumbuhnya rumah dan pemukiman kumuh, seolah-olah hal itu merupakan hal yang biasa, atau memang seperti inikah perwajahan kota di Indonesia?. Sering kita mendengar di surat kabar dan media elektronik, adanya semangat menumbuhkan kembali local wisdom/kearifan lokal, yang akhir-akhir ini mencuat dalam berbagai perbincangan yang ada. Sebenarnya kearifan lokal yang seperti apa yang diharapkan, masih tanda tanya besar. Atau hanya sekedar pemanis pembicaraan dalam kapasitasnya untuk kepentingan sesaat?. Juga hal ini masih diperdebatkan. Kembalinya fenomena ini, barangkali merupakan bentuk kejenuhan suatu perubahan yang jalan di tempat. Ataukah yang berbau lokal sudah tidak nikmat lagi untuk dirasakan?.

Sedikit banyak dalam perencanaan dan manajemen perkotaan harus peka terhadap persoalan-persoalan ini. Yang dihadapi bukan hanya persoalan diatas kertas namun lebih dari itu, sehingga dibutuhkan energi untuk merekam dan merespon persoalan-persoalan tersebut. Sekali lagi tugas yang cukup berat seorang manajer kota bertambah dipundaknya. Manajer kota bukan hanya sebagai birokrat saja melainkan juga sebagai pelayan masyarakat. Tugas mensejahterakan masyarakat kota merupakan amanah yang harus dijalankan, karena amanah itu adalah pedang yang sewaktu-waktu akan menebas leher pelaksananya. Kenyataan yang banyak terjadi adalah mereka para pemimpin kota (walikota, bupati) banyak yang lupa akan tugas dan kewajibannya, beberapa waktu yang lalu seorang bupati yang ditemukan berbuat asusila yang mengakibatkan tercorengnya daerah yang dipimpinnya, ada juga kasus bupati yang menjadi terpidana karena mengkorupsi uang rakyat. Jabatan sebagai seorang bupati/walikota atau manajer kota sangat menggiurkan sehingga harta dan wanita begitu mudah didapatkan?. Hal ini kembali pada pribadi masing-masing dan sistem yang barangkali selama ini salah dan perlu adanya pembenahan secara total.

Beberapa kota-kota di Indonesia sudah cukup dewasa untuk menyikapi hal tersebut, namun pertarungan internal sebuah kota tidak akan habis-habisnya sampai kota itu mati dengan sendirinya. Perubahan akan terus bergulir namun dampak-dampak akan terus menumpuk dan membukit sampai menggunung dan lama-lama akan menimpa kota itu sendiri. Apabila tidak ada penanganan yang serius dari seorang manajer kota maka kenyataan tersebut akan lebih cepat terjadi.

Baca Juga :