Ketika Blackberry Bermain ‘Layangan’

Ketika Blackberry Bermain ‘Layangan’

 

Ketika Blackberry Bermain ‘Layangan’
Ketika Blackberry Bermain ‘Layangan’

Jujur, saya tak bisa main layangan. Selama hidup saya, bisa dihitung dengan jari berapa kali main layangan. Selama hitungan jari itu pun, jangankan terbang melayang, layangan yang ada biasanya nyungsep di genteng atau kabel PLN. Mungkin saya harus belajar pada Blackberry yang kini gemar bermain ‘layangan’.

Tarik Ulur

Filosofi bermain layangan cukup unik; menarik dan mengulur. Filosofi ini juga dipakai saat orang sedang dicandu asmara; tarik dan ulur. Apa Blackberry sedang dimabuk asmara? Saya kira tidak. Mereka saat ini nampaknya dimabuk ‘kebangkrutan’. Beberapa waktu lalu CEO Blackberry menuturkan jika ‘pabrik hp’ asal Kanada itu merugi sekitar Rp 10 trilun.

Lantas apa hubungannya dengan tarik ulur? Tiga pekan ini kita disuguhkan dengan banjir kabar soal BBM lintas platform. Kabar tersebut terkait dengan niatan Blackberry yang mengiklhaskan aplikasi pesan instan legendarisnya itu ke banyak OS. Namun, di hari H peluncuran, pengguna hanya bisa gigit jari. Aplikasi yang dijanjikan tak tersedia meski sempat nongol sekejap di App Store.

Soal ini pasti pembaca Ngonoo sudah muak mengonsumsinya. Namun yang jadi ganjalan di kepala saya, apa sesungguhnya yang terjadi. Apakah benar karena gangguan teknis seperti yang tertulis di Blog Blackberry, apakah benar karena karena server mereka ‘kaget’, dan apakah benar karena konspirasi remason dan wahyudi?

Seakan Blackberry sedang bermain layangan; menarik dan mengulur. Sebelum 21 September, hari H aplikasi tersebut dirilis, Blackberry sudah keluarkan versi beta. Setelah aplikasi gagal rilis – dengan alasan banyak yang bocor akibatkan gangguan – Blackberry beberapa waktu lalu kembali luncurkan versi beta jilid 2. Apakah jika bocor dan gagal lagi terus luncurkan aplikasi beta jilid 3 dan seterusnya?

Pesakitan

Ibarat terkena parkinson, ‘tangan’ Blackberry seakan mengkhianati tubuhnya sendiri. Coba lihat apa yang terjadi dengan Blackberry Z10. Diluncurkan awal tahun ini, bersamaan dengan pergantian nama RIM jadi Blackberry, ponsel itu gagal total. Bahkan, penjualannya di Amerika Utara diobral. Kerugian Rp 10 triliun ini juga akibat anjloknya penjualan Blackberry Z10.

Blackberry memang tengah sekarat. Mengutip Krisdayanti, perusahaan pesakitan ini nyawanya tinggal menunggu hitungan hari. Tatkala umumkan kerugian, sang CEO cukup bangga jika kas Blackberry sehat tanpa hutang. Namun, menurut sebuah analisis perusahaan keuangan, kas mereka akan ludes dalam hitungan 18 bulan ke depan. Februari 2015, Blackberry dipastikan tamat.

Menjelang tamat, Blackberry mencari juru selamat. Agustus lalu mereka membentuk tim khusus untuk mencari jalan keluar penyelamatan. Salah satu opsi yang ada celakanya membunuh perusahaan itu sendiri, yakni dijual. Singkat cerita, ada investor yang menawar hingga USD 5,4 miliar.

‘Konspirasi’

Sebelum Blackberry memutuskan kemungkinan menjual perusahaan, sejatinya Blackberry sudah miliki niatan untuk memisahkan BBM dengan induknya. Nantinya BBM akan bernama BBM inc. Kebijakan ini diambil bilamana di masa depan aset BBM bisa diselamatkan. Sebab, aplikasi pesan instan itu miliki daya tawar cukup tinggi.

Yang menarik kemudian, pagi tadi saya baca artikel di situs IBTimes. Singkat kata, situs tersebut menulis tajuk soal keseriusan BBM ke Android yang pasti terealisasi namun masih tertunda. Lalu, ada keterangan menarik dari sumber situs tersebut, seorang perwakilan dari Blackberry yang bernama Victoria Berry. Ia berujar jika BBM lintas platform ditunda kemunculannya bukan karena disengaja.

Ada asumsi dan analisa yang menyebut jika Blackberry memang sengaja lakukan itu. Penyebabnya, mereka ingin menunjukkan betapa besar dan dahyatnya antusias pengguna di Android dan iOS akan BBM. Imbasnya, antusiasme ini menjadi salah satu indikator kepopularitas Blackberry di mata investor atau calon pembeli. Singkat kata, dengan potensi itu mereka berharap agar Blackberry bisa terjual dengan harga yang lebih tinggi.

Blackberry memang telah ditawar. Fairfax sudah ajukan harga sekitar USD 5,4 miliar. Namun, Blackberry miliki tenggat waktu hingga bulan November nanti untuk mengiyakan ajuan itu. Bahkan, mengutip beberapa sumber, Blackberry juga dekati Samsung dan Google untuk ajukan tawaran mereka.

Asumsi lain yang muncul yakni keberatan pihak calon pembeli akan kehadiran BBM di platform lain. Mereka berpendapat jika BBM tersedia di ponsel non Blackberry, lantas apa yang istimewa dari smartphone mungil hitam itu. Para analis berpendapat jika batalnya perilisan tanggal 21 September lalu terkait dengan hal ini. Blackberry diyakini masih menimbang dan berfikir dua kali untuk hadirkan BBM di luar OS BB.

Duh pedhot …

Saat main layangan – bukan main tepatnya, saya lihat orang lain main – ada kalanya layangan itu putus; akibat duel dengan layangan lain atau karena faktor lain, angin misalnya. Tatkala layangan itu ditarik dan diulur, pemainnya senang melihatnya. Ia bangga, ia jumawa, sedikit sombong jika mampu mainkan layangan itu dengan ciamik. Namun tatkala putus, wajahnya pun terlihat ketus.

Ini juga terlihat dari apa yang terjadi dengan BBM. Tatkala dirilis dan batal, Blackberry sejatinya senang. Coba

perhatikan tweet dan kicauan mereka di Twitter (@BBM). Mereka bahagia melihat antusiasme pengguna non Blackberry. Mereka bangga jika BBM begitu dinanti. Dan mereka tertawa melihat pengguna Android dan iOS sangat menggilai BBM.

Tapi, itu dulu, tiga pekan yang lalu atau pra tanggal 21 September. Mungkin antusias itu juga muncul pasca hari H. Tapi kian ke sini, rasanya gejolak itu kian hilang. Pengguna seakan acuh dan masa bodoh dengan janji manis Blackberry.

Ibarat main layangan, Blackberry boleh menarik dan mengulur, namun strategi ini juga tak bisa dilakukan

seterusnya. Ada pagar, ada batas, dan ada limit yang wajib mereka patuhi. Antusiasme muncul karena moment. Jika moment itu hilang, otomatis antusiasme yang ada juga berkurang. Jika layangan putus karena kalah duel atau angin, pemainnya pasti kecewa. Jika putus karena disengaja?

Waktu saya kecil, harga layangan sekitar Rp 200 hingga Rp 500. Mungkin kini di angka Rp 1000 hingga Rp 5000.

Dan lagi, penjual layangan gampang dijumpai. Tinggal lari ke sebelah sudah temukan toko yang jual layangan. Ini juga berlaku untuk Blackberry. Aplikasi pesan instan bukan BBM semata. Di luar sana, tak hanya satu dua aplikasi yang lebih menggelora. Selain gratis dan berfitur sama, produk lain bahkan miliki fitur lebih mutakhir.

Pendek kata, sampai kapan Blackberry terus bermain layangan?
*Gambar Layangan via shutterstock

Sumber:

https://www.jmgonline.co.id/mxgp-motocross-rush-apk/