Si Bangau dan Si Parto

Si Bangau dan Si Parto

Dahulu kala di suatu desa di tepi hutan, hidup seorang pemuda bernama Si Parto. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan.

Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas hujan.

Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Si Parto segera melepaskan perangkap itu.

Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Si Parto beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya di rumah, Si Parto segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan hujan. “Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku,” ujar Si Parto. “Nona mau pergi kemana sebenarnya ?”, Tanya Si Parto. “Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena hujan turun dengan lebat, aku jadi tersesat.” “Bolehkah aku menginap di sini malam ini ?” “Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan.”, kata Si Parto. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap”. Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak.

Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Si Parto berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Hujan masih turun dengan lebatnya. “Tinggallah disini sampai hujan reda.” Setelah lima hari berlalu hujan mereda. Gadis itu berkata kepada Si Parto, “Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini.” Si Parto merasa bahagia menerima permintaan itu. “Mulai hari ini panggillah aku Parti”, ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Si Parto, Parti mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Parti meminta suaminya, Si Parto, membelikannya benang karena ia ingin menenun.

Parti mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Parti menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Parti keluar. Kain tenunannya sudah selesai. “Ini tenunannya Pak. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Si Parto sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. “Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. “Baiklah akan aku buatkan”, ujar Parti. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Parti menenun. Tetapi tampak Parti tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Parti meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Si Parto akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Si Parto pada istrinya. “Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya”, kata Parti.

Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Si Parto berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Si Parto, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Parti. “Akhirnya kau melihatnya juga”, ujar Parti.

“Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong”, untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini,” ujar Parti. “Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu”, lanjut Parti. “Maafkan aku, kumohon jangan pergi,” kata Si Parto. Parti akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terabng keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Si Parto sendiri yang menyesali perbuatannya.

Baca Juga :