Tanah Sejengkal Berakibat Siksa

Tanah Sejengkal Berakibat Siksa

Tanah Sejengkal Berakibat Siksa

Tanah Sejengkal Berakibat Siksa

Kami berasal dari kelurga besar, aku sendiri anak ke empat dari delapan bersaudara. Kami juga bukan dari keluarga yang bisa dibilang kaya, namun begitu ayah memiliki beberapa petak tanah yang didapatnya dari susah payah dan kerja keras, mulai dari usaha dagang sampai menjadi sopir angkot. Hal itu dilakukannya demi untuk menghidupi keluarga dan menyiapkan bekal untuk anak-anaknya suatu hari kelak. Sementara kami anak-anaknya hanya bisa menikmati hasil jerih payah ayah dan ibu tanpa bisa memberi balasan yang setimpal. Apa lagi kakakku yang nomor tiga, sebut saja namanya Adi (bukan nama sebenarnya) hidupnya hanya bisa bergantung pada orang tua, mulai dari rumah sampai usaha toko kelontong, semua diberi oleh ayah. Padahal ia sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak, tak ada sedikitpun keinginan untuk memiliki rumah atau usaha yang berasal dari jerih payahnya sendiri. Sangat berbeda dibanding saudara-saudaraku yang lain, walau rumah menumpang pada orang tua tapi mereka memilki pendapatan dari pekerjaan yang mereka usahakan sendiri. Apalagi kakakku yang kedua, sebut saja namanya Imran (bukan nama sebenarnya) saat itu ia sudah mampu membeli sebidang tanah, walau tak luas ia bisa membuat ayah dan ibu bangga. Imran memang agak lain dibanding ke-enam saudaraku, sifatnya sangat mirip dengan ayah, banyak mengalah dan selalu bekerja keras untuk mencapai keinginannya. Tak heran jika ia berhasil membeli sebidang tanah yang letaknya bersebelahan dengan tanah ayah. Imran sebenarnya tak mau tatkala ayah memintanya untuk menempati salah satu kamar yang ada di rumah namun ibu memaksanya karena tak ingin melihat anaknya harus mengontrak rumah, padahal rumah yang ada sekarang cukup besar buat kami. Permasalah mulai muncul saat ayah sering sakit-sakitan, Adi mulai sibuk menghitung-hitung bagian-bagiannya kelak, rumah sebidang tanah dan sejumlah uang. Padahal saat itu ayah belum meninggal dan ibu masih sehat, aku hanya bisa beristigfar melihat kelakuannya, sementara saudara-saudaraku yang lain mulai emosi, pertengkaranpun tak bisa lagi terbendung. Melihat hal itu ayah dan ibu hanya bisa mengeluarkan air mata, “Belum lagi ayah dan ibu tiada mereka sudah meributkan hartaku,” demikian ia pernah berucap kepadaku. Semakin lama keadaan ayah semakin parah dan tak lama kemudian ia akhirnya berpulang, sebulan kemudian ibu menyusul ayah keharibaanNya. Mungkin ibu tak kuat menyaksikan anak-anaknya yang selalu meributkan harta warisan. Singkat cerita kami akhirnya membagikan harta peninggalan kedua orang tua kami, hanya Imran yang menolak bagiannya, ia memberikan bagiannya kepada si bungsu. Masalah kembali timbul tat kala Adi berusaha membuat batas antara tanah bagiannya dengan tanah milik Imran yang kebetulan berbatasan. Adi mengklaim bahwa batas yang sudah ada merupakan akal-akalan Imran, padahal letak perbedaan batas lama dengan batas yang dibuat Adi hanya berjarak tal lebih dari 20 cm atau hanya sejengkal. Untunglah Imran tak mau bersitegang hanya karena tanah yang sejengkal itu, ia mengalah. Waktu terus berjalan, kami semua beraktifitas seperti biasanya. Diantara kakak dan adik-adikku ada yang menjalani dengan keberhasilan, ada yang stagnan ada pula yang mengalami kemunduruan. Yang paling terlihat mencolok dalam perubahannya dalah Adi dan Imran. Kakakku nomor dua itu semakin hari semakin terlihat jaya, sementara Adi sebaliknya. Totko yang dikelolanya bangkrut, sebidang tanah pemberian ayah ikut ludes karena ia jual untuk membeli sebuah mobil dan akhirnay mobil itupun ia jual untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Hidupnya semakin morat-marit saat istrinya terlibat skandal percintaan dengan laki-laki lain hingga berujung perceraian. Rumah yang saat itu ia tempati terpaksa dijual. Karena kasihan aku membujuknya untuk tinggal bersamaku, namun entah mengapa ia menolak dan memilih untuk mengontrak. Kulihat ia mulai sering menyendiri, tubuhnya semakin kurus karena tak terurus, tak lama kemudian ia jatuh sakit, kakinya mengalami kelumpuhan permanen. Kelumpuhan membuatnya tak lagi bisa beraktifitas seperti biasannya. Namun ia menolak semua bantuan yang kami tawarkan, ia tetap memilih tinggal dikontrakan yang tak jauh dari rumah keluarga kami yang lain. Sehari-hari ia hanya bisa berbaring, sementara anak-anaknya hanya sesekali berkunjung untuk mengantarkannya makanan. Suatu saat kami dikejutkan dengan kabar yang menyebutkan bahwa Adi telah berada di jalan menuju komplek pemakaman. Saat aku menyusulnya, kulihat Adi tengah beringsut menuju makam ayah sambil terus menyebut nama ayah dan ibu. Celana dibagian lututnya robek, kulihat darah mulai merembes membasahi bagian kakinya, saat hendak kubantu ia menolak. Ia terus meracau memonon ampunan ayah dan ibu. Ia tak lagi memperdulikan keadaan luka di kakinya yang semakin menganga, ia terus bergerak menyeret-nyeret kakinya yang lumpuh. Sepuluh meter menjelang makam ayah dan ibu, Adi ambruk tak dapat meneruskan gerakannya, ia berteriak-teriak memilukan memanggil-manggil nama ayah dan ibu sambil terus memohon ampunan, saat kami berusaha membawanya mendekati makam ayah dan ibu, Adi diam tak bergerak, teriakannyapun tak terdengar lagi dan ternyata ia sudah tak bernyawa, sepuluh meter dari makam ayah dan ibu. Adi tak sempat memeluk kubur mereka seperti keingianannya. Dan kami hanya menghela nafas panjang menyaksikan penderitaan Adi hingga ajal menjemputnya. Semoga Allah memebrinya ampunan.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/