Sejarah proteksi sejak Perang Dunia II

Sejarah proteksi sejak Perang Dunia II

Sejarah proteksi sejak Perang Dunia II
Sejarah proteksi sejak Perang Dunia II

1) Terus merosotnya tarif bea masuk melalui negosiasi GATT yang berkelanjutan (successive GATT negotiations)
2) Hambatan pada perdagangan secara konvensional yang makin menurun (licenses, kuota impor)
3) Munculnya nontariff barriers.

Secara kronologis, proteksi dalam perdagangan dapat dikemukakan sebagai berikut :
1) 1920-1930 : krisis keuangan internasional dalam tahun 1929.
2) 1930-an : beggar-thy-neighbour protection policies yang diertai depresi besar, anjloknya perdagangan dengan mencuatnya hambatan-hambatan.
3) 1947 : pembentukan GATT untuk melandasi aturan perdagangan multilateral dan sebagai forum untuk negosiasi liberalisasi perdagangan global.
4) 1950-an : vested interests tetap berkecamuk setelah Perang Dunia II.
5) 1960-an : putaran-putan GATT secara liberalisasi restriksi intra-Eropa yang mengurangi proteksi, kecuali dalam sektor pertanian, tarif bea masuk dikurangi dan mengikat, kebanyakan kouta impor ditiadakan, kecuali untuk pertanian dan tekstil.
6) 1970-an : munculnya pressure groups karena kelemahan kemampuan bersaing terhadap eksporitr negara-negara berkembang dan tekanan struktural sebagai akibat ‘krisi minyak’ mendorong mencuatnya proteksionisme gaya baru dalam sektor manufaktur negara-negara industri, subsidi domestik Putaran Tokyo membahas penurunan tarif bea masuk lebih lanjut.
7) 1980-an : mencuatnya tekanan fiskal dan neraca pembayaran, khususnya di Amerika. Adanya suatu pengalihan (switch) dari subsidi ke tindakan-tindakan perdagangan yang tidak adil (unfair), peningkatan pemakaian voluntary restrains, dimulainya Putaran Uruguay.
8) 1990-an : diskriminasi dan pengaburan (obfuscation) merupakan senjata baru proteksionisme.

 

Sumber : https://uptodown.co.id/