Limbah Buah untuk Hiasan Rumah, Bangunan Spiral untuk Pasar

Limbah Buah untuk Hiasan Rumah, Bangunan Spiral untuk Pasar

Limbah Buah untuk Hiasan Rumah, Bangunan Spiral untuk Pasar
Limbah Buah untuk Hiasan Rumah, Bangunan Spiral untuk Pasar

Buah memiliki banyak kandungan yang bermanfaat. Salah satunya jeruk. Tak hanya daging buahnya yang berguna. Namun, kulitnya juga bernilai jual.

Potensi itu lantas dilirik oleh Michelli Wirahadi. Mahasiswi Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya itu kemudian menyulap kulit jeruk jadi bahan interior rumah. Limbah yang tadinya terbuang, kini dia oleh menjadi pernak-pernik hiasan.
Limbah Buah untuk Hiasan Rumah, Bangunan Spiral untuk Pasar
DETAIL: Elisabeth Kathryn dan desain gedungnya. (Okky Putri Rahayu/Jawa Pos)

Mahasiswi jurusan desain interior angkatan 2013 ini mengaku mendapatkan ide sejak semester tiga. Kala itu, perempuan yang akrab disapa Michi itu iseng membaca-baca kandungan kulit jeruk. Utamanya limonen. Rupanya, limonen ini mampu menjadi penghancur sterefoam. Dari sana, Michi memutar otak untuk mencari pemanfaatan limonen yang tepat. Tentunya dibarengi dengan pemanfaatan sterofoam yang selama ini sering menjadi limbah.

Meskipun demikian, komposisi yang tepat sulit didapatkan. Michi bahkan mencoba hingga 50 kali.

Hasilnya, dia menemukan campuran kanji dan beberapa bahan lain. Hal ini, lanjut dia, membuat kelenturan dan kekuatan bahan buatannya menjadi pas. ”Lentur dan gampang dibentuk. Tapi juga kuat dan nggak gampang pecah,” paparnya.

Untuk mendapatkan lembaran-lembaran bahan, prosesnya tak susah. Kulit jeruk dipotong-potong dan dicampur dengan sterefoam. Termasuk dengan tepung kanji sebagai perekat keduanya. Semua bahan itu lantas dipanaskan dan diaduk. Persis seperti proses membuat dodol. Setelah tercampur, adonan dicetak dan dikeringkan.

Setelah berbentuk lembaran, Michi lantas memotongnya dalam beragam bentuk. Hal itu, lanjut dia, disesuaikan dengan model yang akan dibuat. Namun, tak perlu kawatir jika salah potong. Sebab meski kering, bisa dibentuk ulang hanya dengan dibasahi air atau dipanaskan. “Sangat fleksibel dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Saat ini, Michi baru memanfaatkannya sebagai penghias partisi. Namun, dia mengaku optimistis dengan potensi dari bahan temuannya. Ke depannya, dia berniat membuat produk interior dan aneka peralatan rumah lainnya . ”Bisa kap lampu dan sebagainya,” imbuhnya.

Ide segar lain datang dari Elisabeth Kathryn. Ketertarikannya pada aktivitas pasar tradisional melahirkan inovasi desain. Di tengah menjamurnya pasar modern, menurutnya, pasar tradisional punya magnet tersendiri. Terutama tentang interaksi sosial sebagai kekhasan pasar tradisional.

Karena itu, mahasiswi jurusan arsitektur UK Petra angkatan 2013

ini mendesain bangunan spiral untuk pasar tradisional. Meskipun dibuat bertingkat, antar lantai bisa dijangkau dengan mudah. Sebab, bangunan pasar rancangannya dibuat dibuat bergelombang. Sehingga, tidak diperlukan tangga untuk mencapai lantai yang berada lebih atas. ”Terus jalan aja, orang tidak sadar bahwa sudah naik ke lantai atas,” tuturnya. Pembuatan pasar vertikal ini, menurutnya menjadi solusi keterbatasan lahan.

Untuk membuat desain bangunan spiral itu, Elisabeth mengaku harus mendapat perhitungan yang pas. Terutama untuk mengatur kemiringan lantai agar membuat pengguna nyaman. Untuk lantai stan pasar, perbandingannya 1:16. Hal itu berarti setiap panjang 16 meter, ada kenaikan 1 meter. Hal ini, menurutnya, telah disesuaikan dengan kenyamanan pengunjung saat berjalan-jalan di pasar. ”Ini konsep pasar wisata,” jelasnya.

Minimnya penggunaan tangga, menurut Elisabeth, untuk memudahkan pengangkutan barang.

Fasilitas tangga disediakan untuk kondisi darurat. Sedangkan, lift turut disediakan sebagai sarana percepatan untuk mencapai lantai yang dituju. ”Kalau sudah tau tujuannya, kalau mau jalan-jalan bisa menggunakan jalur biasa,” jelasnya.

Selain itu, Elisabeth juga merancang lahan parkir dalam satu gedung dengan pasar. Hal ini, lanjut dia, untuk meningkatkan interaksi sosial dalam pasar. Sebab, hal ini menjadi ciri khas dari pasar tradisional. (*)

 

Sumber :

https://works.bepress.com/m-lukito/2/