Yogyakarta Sebagai Kota Perjuangan

Yogyakarta Sebagai Kota Perjuangan

Yogyakarta Sebagai Kota Perjuangan
Yogyakarta Sebagai Kota Perjuangan

Pada awal bulan Agustus 1945

Jepang bertekuk lutut terhadap bala tentara Sekutu sehingga dengan berakhirnya Perang Asia Timur Raya yang merupakan bagian perang dunia II. Hanya terpaut beberapa hari dari peristiwa tersebut tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

Kemudian mendaratlah bala tentara Sekutu untuk melakukan aksi polisionil yang sebenarnya merupakan aksi militer, karena saat pemerintah Belanda ingin tetap meneruskan aksi penjajahan kepada bangsa Indonesia dengan turut memboncengi misi tersebut. Semakin hari nampaknya Belanda semakin mendesak tentara Indonesia sehingga pada akhirnya setelah situasi sedemikian gawat pemerintah Indonesia baru saja terbentuk kemudian dialihkan secara diam-diam dari Jakarta ke Yogyakarta, peristiwa tersebut terjadi tahun 1946.(http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-laporan-hasil-observasi/)
Selanjutnya di akhir tahun 1948 serangan bala tentara Belanda akhirnya sampai di Yogyakarta dan berhasil menangkap pembesar-pembesar Republik serta mengasingkannya ke Prapat di Sumatera Utara dan ke Pulau Bangka. Namun hal ini tidak berarti berakhirnya Negara Republik Indonesia. Laskar Indonesia yang dibantu oleh segenap rakyat tetap mengadakan pelawanan gerilya dibawah pimpinan Jenderal Sudirman saat itu.

Sekitar Febuari 1949

di daerah Bibis yang letaknya kurang lebih 6 Km sebelah Selatan kota Yogyakarta Tentara Republik Indonesia merencanakan serangan umum yang ditujukan ke pertahanan bala tentara Belanda di kota Yogyakarta saat itu. Serangan dilancarkan pada waktu fajar tanggal 1 Maret 1949 dan oleh karena itu maka serang tersebut juga dikenal dengan sebutan “serangan fajar” atau lebih dikenal lagi dengan sebutan “serangan oemoem 1 Maret”. Selanjutnya dalam serangan ini Tentara Republik Indonesia berhasil menguasai kota Yogyakarta selama 6 jam, sehingga muncul istilah 6 jam di Jogja.

Serangan umum 1 Maret

adalah pameran kekuatan yang sekaligus membuktikan pada dunia Internasional, bahwa walaupun Belanda berhasil menduduki tanah air Indonesia, namun meskipun demikian pemerintahan Republik yang berdaulat keadaan masih tetap ada dan tinggal mencari dukungan pengakuan dari dunia Internasional. Sesuai dengan rencana serangan 1 Maret telah melapangkan jalan dalam diadakannya perundingan Roem Royen yang antara lain memutuskan penarikan kembali bala tentara Belanda dari wilayah RI, pengembalian pemerintahan RI ke kota Yogyakarta dan merencanakan KMB (Konferensi Meja Bundar) di Den Haag Negeri Belanda yang akhirnya menghasilkan pengakuan kedaulatan RI atas wilayah oleh Belanda.

Serangan Umum 1 Maret 1949

di Yogyakarta merupakan puncak dari perjuangan melawan penjajah Belanda yang telah berhasil dengan gemilang. Namun untuk saja sejarah telah mencatat bahwa dalam abad-abad sebelumnnya Yogyakarta tidak pernah ditinggalan dalam usaha melenyapkan penjajahan Belanda dari Bumi Nusantara. Diantaranya yang terkenal adalah perjuangan Sultan Agung pada tahun 1628 dan 1629 serta perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825 sampai dengan 1830.