Kemenangan Sultan Agung Atas Surabaya 1620-1625

Kemenangan Sultan Agung Atas Surabaya 1620-1625

Kemenangan Sultan Agung Atas Surabaya 1620-1625
Kemenangan Sultan Agung Atas Surabaya 1620-1625

Setelah Sultan Agung berhasil menundukan Tuban, menyebabkan semangat orang Surabaya melemah. Hal ini membuat mereka tidak lagi berani menunggu kedatangan raja Mataram di kota mereka. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena ternyata Surabaya dengan ulet dan penuh keberanian mempertahankan diri. Tidak lama kemudian kota tersebut menyerah bukan karena kalah dalam perang, melainkan karena keletihan, selain itu tidak mungkin melakukan pengepungan di kota tersebut. Kenapa tidak mungkin? Dahulu, letak Surabaya  sebagian di sebuah pulau antara sungai Mas dan sungai Pegirian dan sebagian lagi disebelah baratnya. Bagian itu, tempat keraton berada yang dilindungi tembok-tembok tinggi. Selain itu juga disekitarnya dipenuhi rawa-rawa dan sama sekali tidak sehat, maka dari itu dapat dipahami betapa sulitnya mengepung Surabaya.

Dengan kecerdikannya Sultan Agung membuat strategi untuk mematahkan daya tahan kota Surabaya dengan merampas dan melakukan perusakan daerah-daerah sekelilingnya yang dilakukan bertahun-tahun secara teratur. Hal itu dilakukan apabila setelah hasil panen padi masuk, begitu musim hujan mulai, perampok-perampok pulang kembali. Raja Mataram tersebut juga pernah berencana mendirikan benteng di dekat Surabaya, dan terus-menerus mengumpulkan orang didalamnya, dan merusakkan segala-galannya di sekitar Surabaya. Namun tidak ada bukti-bukti terkait bahwa raja Mataram benar-benar melaksanakan rencana tersebut. Keberhasilan raja Mataram dalam menaklukan Surabaya ialah dengan penutupan  saluran air, yang merupakan masalah bagi Surabaya sampai abad ke-19, akhirnya mematahkan daya tahan kota, karena kekurangan air membuat rakyat Surabaya menderita.

Serangan pertama, 1620

Kemudian pada tahun 1620 nampaknya raja Mataram mengumpulkan seratus ribu orang dikotanya untuk bergerak ke Batavia dan sang raja juga ikut serta. Hal ini berdasarkan berita dari orang-orang Belanda yang ditahan di Taji (Mataram) pada tanggal 20 Maret 1620. Dengan pertimbangan bahwa raja Mataram marah terhadap orang-orang belanda pada tahun itu, belanda berfikir bahwa ada kemungkinan besar bahwa Mataram dengan pasukannya yang begitu banyak dimaksudkan untuk menyerang Batavia yang baru saja didirikan. Tetapi kenyataannya justru tidak demikian, tujuan Mataram adalah untuk menaklukan Surabaya baik melalui darat maupun laut.
Gubernur Jepara setelah berhasil menaklukan Tuban diperintahkan raja membawa 80 Kapal ke arah Timur dengan maksud, demikian pendapat Coen, memusnahkan loji Belanda di Gresik. Namun apabila dipertimbangkan bahwa ada 1000 awak kapal agak berlebihan untuk menduduki loji yang tidak mencapai lima orang Belanda. Nampak jelas sekali bahwa tujuan armada Mataram adalah hal yang lebih besar.
Mengenai gerakan tentara darat, Artus Gysels, yang kebetulan pada waktu itu tiba di Selat Madura dengan 3 kapal dari kepulauan rempah-rempah, melaporkan  bahwa pada waktu ia dalam bulan Agustus 1630 berada di Surabaya, raja Mataram menyerang kota dengan 70.000 pasukan. Surabaya mengerahkan 30.000 pasukan yang direncanakan akan menghentikan serangan Mataram di pada sebuah Sungai. Namun karena munculnya Neptunes secara kebetulan cukup mengacaukan rencana Mataram dalam melakukan penyerangan. Saat itu Gresik tidak diduduki, maka tidak mungkin memberikan suplai beras kepada orang-orang Mataram baik melalui laut maupun Bengawan Solo
Karena masalah suplai beras tersebut membuat tentara Mataram yang berjumlah besa tidak mungkin menetap di sekitar Surabaya untuk jangka waktu lama. Pada tahun 1620 menjadi catatan sukses bagi Mataram, yang sangat kecil.

Serangan Kedua, 1621

Pada tahun 1621 raja Mataram nampaknya tidak mengirimkan pasukan ke Surabaya. Hal itu kemungkinanan disebabkan selalu ada kapal-kapal Belanda di Gresik, dan karena itu Mataram tidak bisa menggunakan jalur laut. Tentu dugaan ini sangat masuk akal, dan pada situasi itu pula hanya beberapa gerombolan Mataram, yang berusaha membakar Kota Gresik yang telah ditinggalkan penduduknya, ditangkap dan dicegah Belanda untuk melanjutkan kegiatan mereka. Hal ini tentu mengganggu pikiran raja Mataram, dan membuatnya menghentikan pengiriman kebutuhan bahan makanan keluar dari negerinya selama beberapa bulan, dan ini dapat dianggap pembalasan. Dalam tahun ini nampak tercapai perdamaian antara Mataram dan Batavia. Raja Mataram bersedia membebaskan tahanan-tahanan orang Belanda tanpa tebusan, meskipun ia pernah mengalami kerugian yang dialami di Jepara dilewatkan begitu saja. Sikap seperti ini nampaknya di ambil raja Mataram, yakni sikap bersabar yang ada hubungannya dengan keinginan raja agar orang-orang Belanda bersikap netral dalam pertempuran di Surabaya. Orang-orang Belanda kemudian meninggalkan kota pelabuhan besar ini dalam perangnya melawan Mataram. Alasan Belanda meninggalkan tempat itu, karena kota pantai itu akhirnya tidak bisa bertahan oleh kekuatan yang lebih besar, berhubung juga ada kesulitan-kesulitan di kepulauan Banda, dan Belanda merasa Surabaya sebagai saingan Mataram pantas dilenyapkan. Tetapi, kantor yang berada di Gresik tetap dipertahankan, meskipun tidak ada kapal perang yang melindunginya sesudah Agustus 1621.
Sebelum raja Mataram menyerang Surabaya lagi, ia memerintahkan sebuah ekspedisi menuju ke salah satu daerah kekuasaan Surabaya, yaitu bernama Sukadana.pada akhir tahun 1621 orang-orang Mataram mempunyai rencana menyerang Sukadana. Gubernur Kedal dengan 70 kapal membawa prajurit hendak menyerbu kota secara tiba-tiba, namun diketahui, dan kembali tidak menunda untuk berperang. Setengah tahun kemudian, usaha itu diulangi, pada tanggal 6 Mei 1622 muncul lagi di depan kota sebuah armada Jawa yang terdiri dari 100 kapal berisi 2000 pasukan melakukan serangan pada malam hari. Dalam peperangan itu Mataram dapat menguasainya meskipun banyak korban di pihak Mataram karena terkena sumpit panah beracun. Ketika matahari terbit, nampak kota itu kosong di tinggal oleh pemiliknya. Kemudian De Haen mendengar bahwa kekalahan pihak Jawa masih lebih berat yaitu selain 300 yang tewas, masih terdapat juga 400 orang luka-luka berat terkena panah. Dari mereka tiap hari tiga sampai empat orang tewas karena racun. Hanya sedikit yang tinggal untuk menghadap raja secara resmi. Ratu yang sudah tua bersama 8 sampai 900 Jiwa, kebanyakan wanita dan anak-anak di tahan oleh orang-orang Jawa dan di bawa ke Jawa beserta hasil rampasannya.
Dari serangan tersebut membuat loji Belanda hancur, meskipun demikian para pejabat berhasil menyembunyikan intan-intan mereka di dalam pot (dengan menanam intan didalam pot), dan kemudian dapat ditemukan kembali. Sedangkan pakaian yang berada di rumah Gubernur dibawa orang-orang Mataram.
Sultan Agung merasa tidak puas dengan intan intan yang dirampas, tidak sesuai dengan apa yang beliau dengar dari para tahanan dan  dari ratu Sukadana yang dibawa ke Jawa, bahwa sebenarnya masih ada intan yang lebih banyak lagi. Ratu Sukadana dipindahkan ke Desa Pingit, dibawah pengawasan Kendal, tetapi setelah bulan Agustus 1622 (setelah bulan Puasa) ia diperbolehkan untuk kembali ke Sukadana, dengan didahulukan budak beliau kesana lebih dulu.
Saat di Pingit, sempat De Haen mengadakan perbicaraan dengan Ratu, “seorang wanita yang sudah lanjut usia, sekitar 80 atau 90 tahun, beruban”, yang di Sukadana selalu berdiam di istananya. De Haen ingin menanyakan tentang orang-orang kompeni dan milik mereka kepadanya.
Sultan Agung memberikan salah satu istrinya kepada Tumenggung Baureksa dari Kendal, sebagai jasa telah berhasil menaklukkan Sukadana sebagai tanda penghormatan.
Demikianlah di tahun itu Surabaya kehilangan salah satu pengkalan di luar daerahnya, sedangkan lainnya, Landak dan Banjarmasin, juga terancam jatuh ke tangan Kerajaan Mataram.
 

Serangan Ketiga, 1622

Raja Mataram tahun yang sama yakni tahun 1622, orang-orang Mataram melakukan ekspedisi militer ke Surabaya yang ketiga. Tumenggung Baureksa, musim semi 1622 memperingatkan Gubernur Jenderal Belanda  tentang bahaya yang akan mengancam orang-orang Belanda dari serbuan yang akan datang oleh pasukan Mataram, dengan tujuan agar Belanda melepaskan kepentingan mereka di Jawa Timur dan tidak lagi mencampuri urusan Mataram dengan Surabaya.  Pada tanggal 15 Agustus raja akan memberikan perintah untuk berangkat kesurabaya dan berharap Surabaya dapat ditaklukan.
Raja Mataram pada tanggal 24 Desember 1622, ada di depan Surabaya dengan kekuatan tempur yang besar. Gresik dan Jortan di kuasai , pegawai kantor Belanda di tahan Mataram, yang kemudian diminta kembali oleh De Haen pada perjalanannya yang kedua ke kota istana tahun 1623. Pasukan Mataram sekitar 80.000 orang mundur karena kekurangan persediaan makanan.
 

Serangan keempat, 1623

Persiapan-persiapan pada 1623, yakni tanggal 19 Juni raja Mataram memerintahkan membuat kapal (gorab). Sesudah bulan puasa raja Mataram dengan pasukannya yang hebat akan menyerang Surabaya, baik darat ataupun melalui laut. Pasukan dipimpin olah panglima Kiai Adipati Mandurareja yang merupakan keturunan Mandoraka. Kiai Adipati Mandurareja diperintah untuk menyelesaikan pada akhir bulan Puasa, dengan ancaman akan dihukum mati apabila tidak segera menuntaskan. Raja Mataram berharap terputusnya segala hubungan laut Surabaya. Beliau juga memiliki strategi cadangan apabila tidak mampu merebut Surabaya, yakni dengan dipertimbangkan untuk menyerang Madura. Pada tanggal 3 Januari 1624 dari laporan umum Gubernur Jenderal De Carpentier memberitakan bahwa dalam musim kemarau  yang lalu, raja Mataram mengepung Surabaya dari darat, akan tetapi kembali lagi tanpa berbuat sesuatu yang penting. Gresik kemudian disergapnya dengan beberapa kapal, mendarat dan membakarnya. Dari berita tersebut sangat sulit disimpulkan apakah pengepungan Surabaya itu berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki. Nampaknya serangan ke Surabaya tidak berjalan mulus, karena pada tahun berikutnya Mataram justru melakukan serangan ke Madura dengan tujuan untuk menghalangi persediaan makanan yang biasa di kirim ke pelabuhan Surabaya.

Serangan kelima, 1624

Mataram menaklukan Madura dari sumber serat kandha (halaman 781-782) yang memberitakan bahwa suatu bagian pasukan Jawa di bawah pimpinan Tumenggung Ketawangan dan Tumenggung Alap-Alap mengadakan penjagaan sekitar Kota Surabaya. Penduduk sekeliling melarikan diri ke kota dan pasukan Mataram berhasil menduduki desa-desa mereka. Dari sumber belanda Gubernur Jenderal De Carpentier 22 Agustus 1624, diberitakan bahwa orang-orang Mataram menghadapi situasi yang berat di Madura, hal tersebut memberikan semangat kepada orang-orang Surabaya untuk mengadakan serangan di pagi hari dengan 800 pasukan, dan berhasil menewaskan perampok Mataram. Namun pasukan Mataram dapat merebut kemenangan pada serangan tersebut. Surabaya mengalami banyak kesulitan baik di laut maupun di darat. Persawahan ladang disekitarnya di rusak Mataram, dengan tujuan agar orang-orang Surabaya menyerah atas kemauan sendiri. Situasi Surabaya saat itu sangat kritis, pasukan Mataram yang berjumlah 80.000 orang mengepung kota tersebut. Di situasi yang sulit tersebut bahan makanan masih bisa di dapat, tetapi hanya bisa di dapat dari beberapa pelabuhan lainnya dan Makassar.
Raja Mataram meminta bantun kepada utusan Belanda, Jan Vos yang saat itu berada di istana untuk tidak memberikan bantuan lagi kepada Surabaya dan tidak mengirim kapal-kapal kesana untuk keperluan berdagang. Kemudian Jan Vos mempersilakahkan Raja menghubungi Batavia. Namun Raja khawatir kehilangan muka bila permintaannya ditolak. Permintaannya tersebut tidak dikabulkan dan pada tahun-tahun berikutnya akibat penolakan itu dirasakan oleh orang-orang Belanda.
 

Jatuhnya Surabaya, 1625

Raja Mataram memerintahkan Tumenggung Mangun Oneng untuk menaklukan Surabaya. Tumenggung Yuda Prana dan Tumenggung Ketawangan diikutsertakan pula beberapa orang Sampang (Serat kandha, hal. 782).
Pasukan Mataram bergerak maju melalui Japan (Mojokerto) ke Terres (Serat Kandha, hal. 783) atau Terusan (Babad B.P. jil. IX, hal. 16), tempat mereka berkemah untuk sementara. Pasukan Mataram membatasi diri dengan bertahan dan membendung sungai untuk sementara. Hanya sebagian dari air tersebut melewati bendungan. Air sedikit ini dicemari dengan keranjang-keranjan yang diisi bangkai dan buah aren, yang diikat pada tonggak-tonggak di dalam sungai. Dari pencemaran tersebut membuat orang-orang Surabaya menderita berbagai macam penyakit; batuk, gatal, dan sakit perut.
Akibat pembendungan sungai itu, terasa di dalam kota, raja Surabaya memanggil para bangsawannya. Berdiskusi apakah akan menyerah atau terus bertempur melawan Mataram. Maka disepakati untuk menyerah, dengan begitu raja Surabaya mengirim putranya, Raden Pekik, dengan membawa hadiah-hadiah yang berharga untuk Tumenggung Mangun Oneng. Utusan disertai 1.000 pasukan, tetapi Pangeran Pekik juga tidak berani menampilkan diri begitu saja di hadapan panglima musuh. Karena merasa malu ia mengirim Demang Urawan atau Ngurawan untuk memberitahukan dengan surat tentang kedatangannya dan surat tersebut disambut dengan baik.
Tumenggung Mangun Oneng kemudian mengirim dua utusan ke Mataram untuk memberitahukan kepada Raja Mataram. Mataram dapat menaklukan Surabaya hanya dengan membendung Sungai Mas (kali Mas). Bendungan ini terdiri dari batang-batang pohon kelapa, bambu-bambu besar, dan batu-batu. Bahan tersebut mudah didapatkan di sekitar Terusan. Raja Mataram memanfaatkan bagian yang bocor (mrembes) tersebut. Air yang banyak merembes menjadi busuk karena keranjang-keranjang yang berisi bangkai binatang dan buah aren, membuat air tercemar, sehingga tidak layak dipakai. Buah aren yang kuning kecoklatan dan banyak mengandung air tidak dapat dimakan, karena dapat menimbulkan rasa pedas dan gatal.
Menyerahnya Surabaya sendiri, justu pada tingkatan terakhir tidak terjadi pertempuran untuk merebut kota. Kota Surabaya dalam keadaan utuh jatuh ditangan Mataram. Pihak yang kalah diperlakukan dengan baik, kecuali yang dendam kepada Raja Mataram.
Berita terkait kalahnya Surabaya sampai di Negeri Belanda pada tanggal 27 Oktober 1625 yang beritanya hanya singkat “ pada musim panas ini Surabaya menyerah kepada Raja Mataram, tanpa perlawanan, hanya karena berkurangnya rakya dan karena kelaparan, sehingga juga…dari 50-60 ribu jiwa tinggal tidak lebih dari seribu”. Dengan jatuhnya Surabaya, maka Raja Mataram berhasil menaklukan bagian wilayah timur Jawa yang beragama Islam.
Baca Artikel Lainnya: